Tokopedia meluncurkan program baru untuk mendukung brand lokal Indonesia

tokopedia meluncurkan program terbaru untuk mendukung dan memperkuat brand lokal indonesia, membantu pelaku usaha lokal berkembang di pasar digital.

Di tengah kebiasaan belanja online yang makin mengakar, pelaku usaha kecil dan brand lokal menghadapi tantangan ganda: berebut perhatian di pasar digital yang padat sekaligus memanfaatkan peluang ekspor yang terbuka lebar. Data BPS pada Triwulan III 2025 mencatat transaksi e-commerce tumbuh 6,19% secara kuartalan, sementara ekspor barang dan jasa meningkat 9,91% (yoy). Angka-angka ini memberi sinyal yang jelas: konsumen Indonesia semakin percaya pada transaksi digital, dan produk buatan dalam negeri punya momentum untuk melompat ke luar batas negara. Dalam konteks itulah Tokopedia meluncurkan program baru yang dirancang bukan sekadar memicu diskon musiman, melainkan membangun jalur naik kelas yang lebih terstruktur—mulai dari kurasi produk lokal, peningkatan visibilitas, sampai kesiapan operasional agar bisa bersaing di kawasan.

Di lapangan, cerita sukses sering dimulai dari hal sederhana: sebuah toko rumahan yang tadinya mengandalkan pelanggan sekitar, lalu bertransformasi menjadi etalase nasional. Namun, transformasi itu jarang terjadi tanpa dukungan yang tepat—mulai dari fitur promosi, logistik, pembiayaan, sampai strategi konten. Di tahun-tahun terakhir, sinergi Tokopedia dengan ekosistem video commerce ikut mengubah cara orang menemukan barang: tidak lagi hanya “mencari”, tetapi juga “menemukan” lewat rekomendasi, live shopping, dan cerita di balik produk. Pertanyaannya kemudian, bagaimana program-program tersebut disusun agar manfaatnya tidak berhenti pada puncak kampanye 12.12, melainkan menetes ke hari-hari biasa? Jawabannya ada pada kombinasi kurasi, edukasi, dan infrastruktur yang membuat brand lokal lebih tahan banting.

Tokopedia meluncurkan program baru: strategi dukungan brand lokal Indonesia di pasar digital

Ketika Tokopedia berbicara soal program baru untuk dukungan brand lokal Indonesia, inti pesannya bukan hanya “lebih banyak promo”, melainkan “lebih banyak akses”. Akses ke pembeli baru, akses ke fitur yang meningkatkan konversi, serta akses ke pengetahuan agar usaha kecil bisa mengelola pertumbuhan tanpa kewalahan. Ini penting karena pertumbuhan transaksi di e-commerce tidak otomatis berarti semua penjual ikut menikmati hasilnya; tanpa diferensiasi dan kesiapan operasional, toko mudah tenggelam di antara jutaan listing.

Salah satu cara Tokopedia menata akses tersebut adalah lewat penguatan kanal kurasi. Kampanye seperti “Beli Lokal” pernah menjadi contoh bagaimana produk yang sudah diseleksi diberi panggung yang lebih jelas, sehingga pembeli tidak perlu “menggali” terlalu dalam untuk menemukan barang yang relevan. Dalam praktiknya, kurasi bukan sekadar label; ia memengaruhi penempatan di halaman tematik, rekomendasi, dan momentum promosi. Bagi pembeli, kurasi mengurangi risiko salah pilih. Bagi penjual, kurasi memperpendek jalan menuju kepercayaan—mata uang paling mahal di pasar online.

Agar lebih konkret, bayangkan kisah fiktif “Dina”, pemilik merek sambal rumahan dari Malang. Awalnya Dina berjualan lewat pesan singkat, lalu pindah ke marketplace untuk menjangkau pelanggan luar kota. Masalah muncul saat variasi produk bertambah: stok sering tidak sinkron, foto seadanya, dan rating mudah turun karena pesanan membludak saat promo. Dalam skema dukungan yang lebih modern, Dina tidak hanya dibantu “traffic”, tetapi juga dibantu menata fondasi: foto yang lebih konsisten, pengemasan yang aman, serta jadwal produksi yang menyesuaikan puncak permintaan. Ini contoh kecil bagaimana program bukan hanya memompa penjualan, melainkan mengurangi “biaya kekacauan” saat bisnis tumbuh.

Ekosistem 21 juta penjual dan tantangan pemerataan kesempatan

Tokopedia dan ShopTokopedia menaungi sekitar 21 juta penjual, dan hampir seluruhnya adalah pelaku UMKM. Skala sebesar ini menghadirkan dua sisi: peluang kolaborasi dan kompetisi yang sama-sama besar. Di satu sisi, pembeli mendapat pilihan melimpah. Di sisi lain, brand lokal perlu alat bantu untuk tampil menonjol tanpa harus membakar margin terus-menerus.

Dalam konteks pemerataan, program yang efektif biasanya menggabungkan promosi dengan penemuan (discovery). Discovery terjadi ketika platform membantu pembeli menemukan barang “yang mereka belum tahu mereka butuhkan”. Itulah mengapa inovasi di ranah personalisasi dan rekomendasi menjadi krusial. Bagi penjual, pemahaman mengenai mekanisme penemuan ini sama pentingnya dengan stok dan harga. Anda bisa membaca perspektif lain tentang arah inovasi personalisasi lewat pembaruan fitur AI personalisasi Tokopedia, yang relevan dengan bagaimana etalase digital semakin dipengaruhi sinyal perilaku konsumen.

Dari promo musiman ke mesin pertumbuhan harian

Program belanja seperti Gajian Sale dan Promo Guncang 12.12 memang menciptakan puncak lalu lintas. Namun, nilai jangka panjang muncul ketika penjual memanfaatkan puncak itu untuk membangun pelanggan berulang: mengumpulkan ulasan, memperbaiki kualitas, dan menyusun paket produk. Hilmi Adrianto dari Tokopedia dan TikTok Shop pernah menekankan bahwa momentum 12.12 tidak hanya memberi nilai bagi pembeli, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku usaha agar naik kelas. Terjemahan praktisnya: saat traffic tinggi, pastikan toko siap menerima lonjakan—kalau tidak, peluang berubah menjadi bumerang berupa keterlambatan dan rating turun.

Di titik ini, logistik dan pemenuhan pesanan menjadi penentu. Ketika brand lokal berani memperluas jangkauan ke luar pulau, waktu kirim dan kepastian paket sampai akan memengaruhi review. Rujukan tentang percepatan pengiriman dapat dilihat melalui inisiatif logistik cepat Tokopedia, yang menggambarkan mengapa keandalan last-mile sering lebih menentukan daripada diskon besar.

Bagian berikutnya akan masuk ke sisi yang lebih luas: bagaimana program ini terkait tren ekonomi digital regional dan peluang ekspor yang kian realistis bagi UMKM.

tokopedia meluncurkan program baru yang bertujuan mendukung dan memperkuat brand lokal indonesia sehingga dapat berkembang lebih pesat di pasar nasional dan internasional.

Program Lokal Mendunia dan peluang ekspor: brand lokal Indonesia menembus Asia Tenggara

Peluang ekspor untuk produk lokal kini tidak lagi monopoli perusahaan besar. Kanal digital membuat “uji pasar” lintas negara jauh lebih terjangkau: brand bisa mencoba beberapa SKU, mengamati respons, lalu meningkatkan kapasitas secara bertahap. Laporan Boston Consulting Group 2025 memperkirakan potensi ekonomi digital di enam negara terbesar Asia Tenggara dapat mencapai sekitar 600 miliar dolar AS pada 2030. Ini bukan sekadar angka makro; ini sinyal bahwa basis konsumen digital di kawasan terus membesar, dan pelaku usaha kecil Indonesia punya alasan kuat untuk memikirkan regionalisasi dari sekarang.

Dalam kerangka itu, inisiatif Lokal Mendunia yang didorong melalui ekosistem TikTok Shop by Tokopedia menempatkan ekspansi lintas negara sebagai proyek yang dapat “dipaketkan”. Maksudnya: bukan menyuruh UMKM melompat sendirian ke pasar baru, tetapi menyediakan infrastruktur yang sudah siap pakai, plus pendampingan agar brand memahami preferensi lokal. Ini penting karena kegagalan ekspor sering bukan soal kualitas produk, melainkan mismatch: rasa terlalu pedas untuk pasar tertentu, ukuran kemasan tidak sesuai kebiasaan, atau pesan merek yang tidak nyambung dengan budaya setempat.

Pembelajaran terarah, misi, dan pendampingan operasional

Program ekspor yang efektif selalu punya tiga lapis. Pertama, pembelajaran: penjual perlu paham aturan dasar, pajak, standar label, dan kebiasaan konsumen. Kedua, aktivitas berbasis misi: target yang jelas seperti “siapkan 10 video pendek untuk edukasi produk” atau “uji 2 variasi bundling” agar proses tidak mengambang. Ketiga, pendampingan: akses ke tim lokal di negara tujuan untuk menghindari kesalahan interpretasi pasar.

Di sini, peran mitra profesional juga muncul. TikTok Shop Partners (TSP) resmi dapat membantu pembuatan konten, live streaming, pengelolaan toko, hingga dukungan fulfillment. Bagi brand yang belum punya tim pemasaran, layanan ini seperti “sewa departemen” tanpa harus merekrut banyak orang. Namun, kuncinya tetap: brand harus memegang kendali atas narasi dan kualitas. TSP membantu eksekusi, bukan menggantikan identitas merek.

Studi kasus: dari kesehatan alami hingga perlengkapan luar ruang

Beberapa brand besar Indonesia sudah membuktikan pola ini, misalnya Paragon, Realfood, dan Eiger Adventure. Yang menarik, contoh Realfood memperlihatkan bagaimana produk berbasis kesehatan dan natural—seperti sarang burung walet—dapat menemukan pasar baru ketika didukung analitik konsumen dan format live shopping. Sejak 2024, Realfood menyiapkan ekspansi ke Asia Tenggara dengan membawa komoditas yang sudah dipahami manfaatnya di beberapa negara. Kanal video commerce membantu dua hal: edukasi (mengapa produk ini bernilai) dan demonstrasi (bagaimana mengonsumsi/menyajikan). Tanpa edukasi, produk premium sering sulit diterima karena harga terlihat “mahal” di awal.

Untuk UMKM, pelajarannya sederhana namun penting: ekspor bukan berarti langsung mengirim kontainer. Bisa dimulai dengan varian kecil yang paling stabil kualitasnya, kemasan yang aman, serta konten yang menjelaskan keunikan bahan baku Indonesia. Di sinilah program lintas platform memberi jalan pintas—bukan jalan instan—menuju pembeli regional.

Setelah peluang terbuka, tantangan berikutnya adalah memastikan bisnis kecil siap menghadapi lonjakan permintaan tanpa mengorbankan reputasi. Bagian selanjutnya membahas fondasi kesiapan itu, dari verifikasi sampai tata kelola toko.

Perlu diingat, ekspansi ke pasar lain juga menuntut kredibilitas akun penjual. Mekanisme verifikasi menjadi elemen yang makin diperhatikan agar pembeli lintas negara merasa aman. Contoh pembahasan tentang praktik verifikasi dapat ditelusuri melalui panduan verifikasi penjual di TikTok Shop, yang relevan bagi brand yang ingin memperluas distribusi lewat kanal video commerce.

Kampanye Beli Lokal dan dampak ekonomi daerah: pelajaran dari Malang dan Jawa Timur

Jika ekspor adalah “panggung besar”, maka kampanye daerah adalah “ruang latihan” yang menentukan apakah brand lokal cukup kuat untuk tampil lebih luas. Contoh yang sering dibahas adalah dinamika di Jawa Timur. Berdasarkan data Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah Provinsi Jawa Timur, UMKM menyumbang sekitar 58,36% terhadap PDRB provinsi pada 2022. Ini menegaskan bahwa menguatkan UMKM bukan agenda pinggiran; ia inti dari daya tahan ekonomi daerah.

Di Malang, pertumbuhan ekonomi kota pada 2023 tercatat 6,07%, termasuk yang tinggi di Jawa Timur. Angka ini memberi konteks mengapa program marketplace yang mendorong transaksi UMKM bisa berdampak nyata: ketika omzet naik, efeknya mengalir ke penyerapan tenaga kerja, pembelian bahan baku, hingga layanan pendukung seperti percetakan label dan kemasan. Kampanye “Beli Lokal” yang pernah digulirkan Tokopedia dan ShopTokopedia menempatkan produk UMKM terkurasi agar lebih mudah ditemukan pembeli. Nuraini Razak menyampaikan bahwa kanal ini menonjolkan UMKM favorit—sebuah cara untuk menyederhanakan pilihan tanpa menghilangkan keragaman.

Kenaikan transaksi dan efek berantai pada kesiapan bisnis

Data internal Tokopedia sempat menunjukkan bahwa pelaku usaha di Jawa Timur yang mengikuti “Beli Lokal” mengalami rata-rata kenaikan transaksi sekitar 1,5 kali dibanding periode sebelum bergabung. Sementara itu, volume pesanan kampanye “Beli Lokal” di ShopTokopedia dalam aplikasi TikTok sempat melonjak 2,5 kali lipat pada Februari 2024 dibanding rata-rata volume pesanan September 2023. Angka-angka ini memberi pelajaran penting: kampanye efektif menciptakan lonjakan, tetapi lonjakan hanya menguntungkan jika pelaku usaha siap.

Kesiapan itu meliputi tiga hal yang sering diremehkan. Pertama, kapasitas produksi dan kontrol mutu: apakah rasa, ukuran, atau bahan konsisten? Kedua, manajemen stok: apakah varian populer selalu tersedia? Ketiga, layanan pelanggan: apakah admin mampu merespons pertanyaan saat chat membanjir? Tanpa tiga hal ini, promo bisa menjadi “jebakan” karena ekspektasi pembeli naik sementara kemampuan toko tetap.

Fitur kurasi sebagai alat navigasi pembeli

Selain “Beli Lokal”, ada inisiatif lain yang membantu pembeli menavigasi pilihan. Misalnya halaman kurasi makanan-minuman UMKM, serta fitur yang mengelompokkan toko pilihan terdekat dari lokasi pembeli. Secara perilaku, pembeli sering memilih “yang terasa dekat”—bukan hanya jarak fisik, tetapi juga kedekatan konteks: produk yang familiar, pengiriman cepat, dan cerita yang mudah dipahami.

Di sinilah inovasi di sisi pencarian dan rekomendasi bekerja. Ketika pembeli mengetik “keripik tempe Malang”, mereka tidak hanya mencari harga termurah; mereka mencari rasa “otentik”, kemasan aman, dan reputasi toko. Maka, brand lokal perlu mengisi etalase digital dengan informasi yang memudahkan keputusan: komposisi, sertifikasi, tanggal produksi, hingga foto yang menunjukkan ukuran sebenarnya.

Untuk mengikat pembahasan ini dengan praktik, berikut daftar langkah yang sering dipakai UMKM agar kampanye tidak berhenti sebagai event sesaat, melainkan menjadi mesin pertumbuhan.

  • Standarisasi SKU: tentukan varian inti (hero product) yang paling stabil kualitasnya agar mudah dipromosikan berulang.
  • Siapkan buffer stok untuk periode promo, lalu pasang batas pembelian bila kapasitas produksi terbatas.
  • Perbaiki aset konten: foto konsisten, video singkat cara pakai, dan deskripsi yang menjawab pertanyaan umum.
  • Optimalkan pengalaman pengiriman: kemasan anti bocor/penyok, label jelas, dan estimasi waktu kirim yang realistis.
  • Bangun retensi: sisipkan kartu ucapan, voucher pembelian ulang, atau bundling yang mendorong pelanggan kembali.

Dengan fondasi tersebut, kampanye daerah menjadi batu loncatan menuju kompetisi nasional, bahkan regional. Berikutnya, kita masuk ke sisi teknologi: bagaimana personalisasi, AI, dan format video commerce mengubah cara brand lokal membangun permintaan, bukan sekadar memenuhi permintaan.

tokopedia meluncurkan program baru yang inovatif untuk mendukung pertumbuhan dan pengembangan brand lokal indonesia, membantu pelaku usaha lokal meningkatkan penjualan dan visibilitas di pasar digital.

Inovasi e-commerce: AI, live shopping, dan personalisasi untuk mengangkat produk lokal

Perubahan terbesar di e-commerce beberapa tahun terakhir adalah pergeseran dari “katalog pasif” ke “etalase aktif”. Dulu, pembeli datang dengan niat dan kata kunci. Sekarang, niat itu sering dibentuk oleh konten—video pendek, ulasan kreator, dan sesi live yang membuat orang merasa sedang melihat demo di toko fisik. Bagi brand lokal, ini kabar baik: cerita asal-usul bahan, proses produksi, dan nilai budaya bisa menjadi pembeda yang sulit ditiru produk massal.

Namun, etalase aktif juga menuntut disiplin baru. Konten harus konsisten, toko harus responsif, dan data harus dibaca. Di sinilah AI dan personalisasi berperan. Personalisasi membantu menampilkan produk yang paling relevan ke pembeli yang tepat, sehingga promosi tidak boros. Di sisi lain, penjual bisa belajar dari pola: jam berapa pembeli aktif, video mana yang paling banyak menghasilkan checkout, serta variasi bundling apa yang paling diminati.

Peran algoritma dalam “penemuan” dan cara menyiasatinya

Algoritma rekomendasi bekerja seperti kurator otomatis: ia mengamati interaksi pengguna lalu menghubungkan mereka dengan konten dan produk yang mirip minatnya. Karena itu, brand lokal perlu memikirkan “bahasa algoritma”: keteraturan unggahan, durasi tonton, komentar, dan tingkat konversi. Konten yang memicu percakapan—misalnya debat ringan soal tingkat kepedasan atau cara memilih ukuran—sering membantu jangkauan, asalkan tetap jujur dan tidak clickbait.

Jika ingin memahami bagaimana tren algoritma AI memengaruhi distribusi konten secara lebih luas, rujukan seperti perubahan algoritma AI di Google dapat memberi gambaran mengapa kualitas konten dan relevansi makin menjadi faktor dominan, bukan sekadar kata kunci.

Contoh taktik live shopping untuk usaha kecil

Kembali ke tokoh “Dina” si pemilik sambal, ia bisa menjalankan sesi live 30 menit setiap Jumat malam. Di sesi itu, Dina tidak hanya menawarkan diskon. Ia mendemonstrasikan cara menyimpan sambal agar tahan lama, membandingkan tingkat pedas, dan mengajak penonton memilih paket “coba dulu” berisi tiga varian mini. Hasil yang sering muncul dari pola seperti ini adalah peningkatan kepercayaan: pembeli merasa mengenal orang di balik produk, sehingga lebih siap membeli meski belum pernah mencoba.

Hal penting lain adalah mengelola chat dan stok saat live. Banyak UMKM gagal bukan karena live sepi, melainkan karena live ramai tetapi stok tidak siap. Solusinya bisa berupa “slot pre-order” dengan waktu produksi yang jelas. Pembeli cenderung memaafkan waktu tunggu jika komunikasinya rapi dan transparan.

Menjaga keaslian brand di tengah otomatisasi

AI memudahkan, tetapi brand lokal tetap membutuhkan sentuhan manusia: pilihan kata yang hangat, cerita yang autentik, dan layanan yang tidak terasa robotik. Di Indonesia, kedekatan sosial masih menjadi faktor pembelian yang kuat. Pembeli sering memilih toko yang “enak diajak bicara”, bukan semata-mata yang paling murah. Karena itu, otomatisasi sebaiknya dipakai untuk pekerjaan repetitif (jawab pertanyaan umum, pengingat stok), sementara interaksi bernilai tinggi tetap ditangani manusia.

Di bagian terakhir, kita beralih dari sisi pemasaran ke sisi fondasi: logistik, kapasitas pemenuhan, serta tata kelola program agar pertumbuhan brand lokal benar-benar berkelanjutan.

Format video commerce juga terus berkembang melalui agenda industri dan diskusi ekosistem. Untuk melihat arah pembahasan terbaru seputar kolaborasi dan praktik terbaik, konteksnya dapat ditelusuri lewat rangkuman TikTok Shop–Tokopedia Summit 2026 yang menyoroti bagaimana pelaku usaha memadukan konten, data, dan operasional.

Dari promosi ke keberlanjutan: logistik, kepercayaan, dan tata kelola program baru Tokopedia

Program promosi yang kuat tanpa infrastruktur hanyalah kembang api: terang sesaat lalu hilang. Karena itu, keberhasilan program baru yang membawa dukungan bagi brand lokal ditentukan oleh tiga pilar: keandalan logistik, kepercayaan transaksi, dan tata kelola yang membantu penjual belajar dari data. Ini bukan isu teknis semata; ini soal pengalaman manusia. Pembeli ingin barang tiba tepat waktu. Penjual ingin proses pengiriman tidak menguras tenaga. Dan platform ingin ekosistem sehat tanpa perang harga yang merusak.

Logistik sebagai “wajah” brand lokal di mata pembeli

Sering kali, pengalaman pertama pembeli dengan sebuah brand bukan rasa produk atau kualitas bahan, melainkan kondisi paket saat tiba. Penyok sedikit pada kemasan makanan bisa membuat orang ragu untuk pembelian ulang, meski rasanya enak. Untuk produk fashion atau outdoor gear, keterlambatan dua hari bisa menggagalkan rencana perjalanan. Maka, investasi pada kemasan dan pemilihan layanan kirim adalah bagian dari strategi merek, bukan biaya tambahan.

Tokopedia mendorong percepatan dan kepastian pengiriman melalui berbagai peningkatan jaringan. Namun, UMKM juga perlu “mendesain” alur internal: jam cut-off harian, rak penyimpanan berdasarkan SKU, dan checklist QC sebelum paket ditutup. Praktik kecil seperti menempelkan stiker “fragile” atau menyertakan silica gel untuk produk tertentu bisa mengurangi retur dan meningkatkan ulasan positif—efeknya terasa langsung pada performa di pasar digital.

Membangun trust: dari verifikasi hingga layanan pelanggan

Kepercayaan adalah mata uang yang membedakan toko yang sekadar viral dari toko yang bertahan. Pada kanal video commerce, trust bahkan lebih sensitif karena transaksi sering dipicu impuls. Verifikasi penjual, transparansi alamat gudang, dan kejelasan kebijakan retur membantu menurunkan keraguan. Di sisi lain, respons cepat dan solusi yang adil saat ada masalah menjadi faktor utama yang diingat pembeli.

Di level operasional, brand lokal dapat menetapkan standar layanan sederhana: balas chat dalam 1–2 jam pada jam kerja, berikan opsi penggantian jika produk rusak, dan dokumentasikan kasus agar bisa mencegah pengulangan. Standar ini terdengar mendasar, tetapi justru sering menjadi pembeda di antara ribuan toko.

Tata kelola program: bagaimana mengukur dampak selain omzet

Omzet penting, tetapi bukan satu-satunya indikator sehat. Program dukungan yang matang seharusnya membantu penjual mengukur hal lain: rasio pembelian ulang, penurunan komplain, waktu pemrosesan pesanan, dan pertumbuhan pelanggan organik. Misalnya, setelah ikut kampanye, apakah rating toko naik? Apakah jumlah pelanggan yang “follow” bertambah? Apakah produk yang sebelumnya niche kini punya komunitas?

Ambil contoh “Dina” lagi. Setelah ikut kampanye, penjualannya naik 1,5 kali. Namun Dina baru merasa bisnisnya benar-benar naik kelas ketika komplain turun karena ia memperbaiki kemasan, dan pembelian ulang meningkat karena ia membuat paket langganan bulanan. Di titik itu, promosi berubah dari “momen” menjadi “sistem”.

Menjaga daya saing tanpa mengorbankan margin

Salah satu risiko kampanye besar adalah ketergantungan pada diskon. Jika brand lokal hanya laku ketika dipotong harga, maka merek tidak punya nilai yang kokoh. Jalan keluarnya adalah diferensiasi: cerita bahan baku, desain kemasan, varian rasa yang unik, atau layanan personal seperti kartu ucapan dan opsi gift wrap. Di Indonesia, unsur kultural sering menjadi nilai tambah—misalnya motif batik pada kemasan, atau narasi resep keluarga yang diturunkan lintas generasi—selama disampaikan dengan jujur.

Pada akhirnya, keberlanjutan Tokopedia dalam merancang program dan fitur pendukung akan terlihat dari satu hal sederhana: semakin banyak usaha kecil yang mampu bertahan setelah hype berlalu, dan semakin banyak produk lokal yang dipercaya sebagai pilihan utama, bukan alternatif. Insight penutupnya jelas: di era e-commerce, promosi menciptakan pintu masuk, tetapi sistem operasional dan trust-lah yang membuat pembeli kembali.

Berita terbaru
salesforce commerce cloud meningkatkan integrasi kecerdasan buatan untuk memberikan pengalaman belanja online yang lebih personal dan relevan bagi pelanggan.
Salesforce Commerce Cloud memperkuat integrasi AI untuk personalisasi belanja online
allegro akan memperluas layanan e-commerce-nya ke eropa tengah pada awal 2026, menghadirkan berbagai produk dan pengalaman belanja yang lebih baik bagi konsumen di wilayah tersebut.
Allegro memperluas layanan e-commerce di Eropa Tengah pada awal 2026
etsy menghadirkan fitur terbaru yang dirancang khusus untuk meningkatkan visibilitas dan penjualan para penjual kecil di platform mereka.
Etsy memperkenalkan fitur baru untuk meningkatkan visibilitas penjual kecil
sektor perbankan indonesia mengalami pertumbuhan kredit yang stabil pada awal tahun 2026, mencerminkan kepercayaan pasar dan kondisi ekonomi yang sehat.
Sektor perbankan Indonesia menunjukkan pertumbuhan kredit yang stabil pada awal 2026
kementerian perdagangan sedang mengevaluasi kebijakan impor nasional di jakarta untuk meningkatkan efisiensi dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Kementerian Perdagangan mengevaluasi kebijakan impor nasional di Jakarta
Berita terbaru